( Hkm Juru Seberang dan Kuale Sijuk )

“Pembangunan ekowisata sebagai aset daerah yang dilakukan supaya dapat meningkatkan pemanfaatan potensi wilayah dan pemberdayaan masyarakat disamping mengatasi permasalahan pembangunan yang dihadapi”.

MANGROVE Merupakan sebutan pengganti istilah “Mangi-Mangi atau Bakau” sebagai salah satu penghuni ekosistem laut dangkal yang dicirikan dengan kondisi lingkungan berlumpur, bau busuk, panas dan banyak nyamuk serta memiliki fungsi yang bersifat fisik, bioekologi, dan ekonomi. Berbicara soal mangrove berarti berbicara mengenai hutan bakau, baik ekosistemnya pada perairan tawar maupun perairan asin.

Jenis-jenis tumbuhan yang hidup di hutan bakau antara lain : Avicennia, Rhizophora, Bruguiera dan Sonneratia. Sedangkan jenis-jenis hewan yang hidup di hutan bakau adalah pada lantai hutan (ikan, kepiting bakau, udang, ular, buaya), pada pohon (serangga, kepiting, primata, burung), dan Avifauna (serangga, burung khas). Mangrove/bakau dengan akar-akarnya yang unik sangat membantu sekali dalam menahan lumpur sehingga mengurangi laju sedimentasi lumpur di padang lamun dan terumbu karang, tempat berpijah dan daerah asuhan jenis-jenis hewan penghuni terumbu karang dan ikan-ikan laut dangkal. Batang bakau menghasilkan “Tannin” yang digunakan untuk bahan bangunan, tiang rumah, kayu bakar, arang dan bahan pembuat kertas. Serta yang tidak kalah penting adalah bermanfaat sebagai penahan angin dan erosi bagi daerah pesisir.

Mangrove atau hutan bakau yang terdapat di Belitung secara umum banyak dijumpai pada daerah muara sungai sampai ke arah hulu sungai, dengan jenis mangrove yang banyak dijumpai adalah jenis Rhizophora apiculata. Jenis ini tumbuh pada lumpur yang tidak begitu dalam dan lembek, digenangi air pasang rata-rata serta toleransi pada salinitas 0 – 30 persen (Watson,1928 dan Haan, 1935).

Berdasarkan hasil studi potensi lingkungan kelautan Kabupaten Belitung oleh Pusat Penelitian Oceanografi – LIPI tahun 2005 melalui pengamatan Citra Landsat yang sudah dianalisa, maka untuk wilayah pesisir Juru Seberang, Air Saga dan Kubu (sebaran mangrove seluas kurang lebih 665,3 Ha), secara umum di bagian depan didominasi oleh jenis Rhizophora stylosa dengan ketinggian mencapai 4 – 6 meter dalam bentuk belta (diameter antara 2 – 8 cm), kepadatan belta antara 2.400 – 3.200 batang/ Ha dan memiliki zona dengan ketebalan 0 – 25 meter dari garis pantai. Sedangkan bagian belakang didominasi oleh jenis Sonneratia alba yang berasosiasi dengan Rhizophora stylosa, Avicennia alba dan Ceriops tagal. Kepadatan pohon (diameter diatas 10 cm) berkisar antara 200 – 400 batang/hektar dengan ketinggian 8 – 10 meter. Secara keseluruhan di lokasi-lokasi ini didapatkan 7 jenis mangrove, yaitu Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, Ceriops tagal, Thespesia populnea, dan Avicennia alba.

Perairan laut sekitar wilayah pesisir Hkm Juru Seberang secara umum tidak terlalu dalam dengan dasar perairan berpasir, berlumpur dan berbatu karang. Pada perairan ke arah Barat-Laut terdapat Pulau Kalamoa dan Kalimambang. Sepanjang perairan tersebut terdapat rataan terumbu bagian atas (reef flat) cukup panjang antara 600 – 700 meter. Pada beberapa lokasi dijumpai rampart dimana saat air surut karang muncul ke permukaan. Karang batu tumbuh berupa bongkahan-bongkahan kecil bergerak ke arah terumbu bagian bawah (reef slope), dimana sudut kemiringan mulai bertambah antara 30 – 45 derajat dan karang mulai banyak dijumpai. Pertumbuhan karang hanya dijumpai pada kedalaman 5 meter, setelah itu didominasi oleh pasir dan pecahan karang. Penyebab kerusakan hutan mangrove pada Hkm Juru Seberang sebelum terjadinya pengelolaan oleh Komunitas Hkm antara lain disebabkan oleh sedimentasi dari darat, pembangunan areal tambak dan sampah bawaan. Hal tersebut dapat dilihat dari observasi di lapangan pada kawasan tersebut.

Hal terpenting yang tidak boleh dilupakan pada kawasan daratan pesisir wilayah ini khususnya pada sisi barat Kawasan Hkm adalah jejak sejarah suksesi daratan akibat pembuangan “Tailrace Material” (Tailing) Kapal Keruk Timah di era tahun 60-70an sehingga terbentuk daratan dengan material pasir laut yang banyak mengandung fosil-fosil kerang dan pengotor organik lainnya, serta terbentuknya beberapa gusong pasir (bukan gusong karang) pada daerah ini sehingga tampak seperti pulau-pulau buatan, dan dikenal dengan sebutan Pulau-Pulau Gusong Bugis.

Sementara pada lokasi Ekowisata Kuale Sijuk, keadaan mangrove di kiri kanan sungai mempunyai ketebalan 25 hingga 50 meter, kepadatan pohon 200 – 400 batang/hektar dengan ketinggian 8 – 10 meter. Sedangkan untuk belta kepadatannya antara 800 – 1.600 batang /hektar dengan ketinggian antara 4 – 6 meter. Selain jenis bakau Rhizophora apiculata sebagai dominan, juga jenis lain yang banyak ditemukan adalah Bruguiera gymnorrhiza. Secara keseluruhan di lokasi ini ditemukan 8 jenis mangrove, yaitu Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, Bruguiera gymnorrhiza, Nypa fruticans, Osbomea octodonta, Aegiceros cumiculatum, dan Lumnitzera racemosa. *) by Ed Niz

Categories: Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *