Pencarian lokasi-lokasi baru yang banyak mengandung timah kulit, alluvial dan primer oleh masyarakat kampung pada masa itu sudah mulai banyak dilakukan untuk selanjutnya dilakukan penambangan secara sederhana dengan penggalian bandar-bandar parit, pembukaan lubang galian maupun galian terowongan merayap seukuran badan satu orang (lazim disebut lubang tikus) sebelum lokasi tersebut dikuasai penambangannya oleh sebuah Kongsi Tambang. Keadaan tersebut terjadi juga di wilayah suatu perbukitan landai pedalaman rimba Kampong Air Selumar, Sijuk. Karena banyaknya bekas galian bandar parit dan lubang-lubang merayap yang dibuat menembus batuan keras pada wilayah tersebut, maka oleh masyarakat sekitarnya, daerah tersebut diberi nama Gunong Tikoes. Penamaan tersebut berlanjut dengan penamaan pada Peta Geologi Pulau Belitong oleh Maskapai Belanda (GMB) yang dibuat awal-awal tahun 1900-an.

Sebelum tahun 1897 saat penambangan bijih timah primer mulai dibuka di Gunung Tikus, kegiatan penambangan bijih timah pada batuan granit lapuk di wilayah ini sudah dilakukan jauh-jauh sebelumnya oleh orang-orang pribumi setempat maupun orang Tionghoa pendatang (catatan: A. J. Akeringa). Tahap awal penambangan timah primer di Tikus mulai dilakukan dengan cara penambangan timah kulit atau alluvial (lembah sungai) berupa bandar-bandar parit, dilanjutkan dengan penggalian lebih dalam karena batuan dasarnya ternyata masih mengandung timah.

Pada tahun 1907 (sepuluh tahun setelah semakin banyaknya orang menambang di Tikus) sebuah Kongsi Pekerja Tambang sudah mulai membuka kolong tambang (bukaan lubang agak luas) atas dasar diketemukannya endapan timah alluvial yang kaya dengan ketebalan 3 – 6 meter. Setelah lapisan timah digali maka mulai tersingkap batuan dasar berupa batuan granit lapuk yang kaya akan kandungan timah primer. Penggalian kemudian dilanjutkan lebih dalam lagi hingga kedalaman 11 meter. Pada kedalaman belasan meter ini, penggalian terpaksa dihentikan karena batuan sudah terlalu keras untuk dapat ditembus dengan cara-cara manual (peralatan sederhana) meskipun indikasi adanya timah masih kuat. Dengan indikasi pada batuan keras di bagian yang lebih dalam tadi banyak mengandung timah primer, maka pihak Kongsi mulai berani melakukan pemboran dalam (bor inti menembus batuan) untuk memastikan deposit timah yang kaya, dan mendapatkan hasil yang sangat memberi harapan.

Pada tahun 1908 mulai dibuat sumuran (shaft) eksplorasi sedalam 19 meter, kemudian dilakukan penggalian ke arah samping (mendatar). Pada tahun 1909 (tahun ke-2 eksplorasi) diketemukan urat bijih dalam batuan kwarsa yang kaya maupun dalam batuan greissen dengan kadar diatas 2,5 %. Pada eksplorasi selanjutnya diketemukan urat kwarsa yang kaya akan bijih timah dengan panjang urat kwarsa 90 meter, ketebalan 30 meter dan lebar 5 – 16 meter. Berdasarkan gambaran positif hasil pengeboran eksplorasi tersebut, maka pada tahun itu juga dibangun sebuah “Shaft” (sumuran vertikal) Eksploitasi yang terletak di sebelah Barat Daya dari posisi kolong tambang yang kemudian ditutup atau tidak dioperasikan lagi.

Pada tahun 1913, yaitu setelah 4 tahun kegiatan operasi produksi, kedalaman Shaft Eksploitasi sudah mencapai kedalaman 120 meter. Dari hasil perhitungan cadangan dari pemboran eksplorasi mereka tercatat Cadangan Bijih Timah sebesar 800.000 Ton yang berkadar ekonomis. Selanjutnya dari Shaft Eksploitasi Vertikal sedalam 120 meter ini dibangun 3 (tiga) level terowongan berpenyanggah kayu bulat (ยข > 30 cm) dengan ukuran lubang bukaan terowongan (1,8 m X 2,5 m). Terowongan ini dibuat menuju arah zona mineralisasi bijih timah (arah urat/vein). Jarak vertikal antar level terowongan adalah 40 meter. Sambil melakukan kegiatan eksploitasi (produksi), kegiatan eksplorasi masih terus dilakukan pada setiap level terowongan. Hasil pemboran eksplorasi yang dilakukan dari setiap level terowongan ternyata memberikan informasi yang menggembirakan sehingga diambil suatu keputusan untuk menjadikan tambang Tikoes sebagai Tambang Dalam (Tambang Bawah Tanah). Pembangunan sarana dan fasilitas pendukung tambang pada tahun itu juga mulai dilakukan seperti bangunan instalasi listrik (1915), gudang bijih, kantor, permukiman tambang, kolam beton sarana air bersih, perbengkelan, jalan rel loko/lori, dan lain-lain seperti sarana pencucian/pengolahan modern yang memiliki kemampuan mengekstrak mineral logam wolframit dengan timah, dan memisahkan dengan mineral ikutan seperti Timbal, Sulfide, Zinc, Tembaga dan Besi. Juga sudah tersedia Peralatan Pengolahan Produksi seperti : Peralatan Pemecah Batu (Jaw Crusher), Mesin Penggiling Batu (Waleen), Mesin Penggiling Peluru (Kogel Molens) dan Batterai Tumbuk California (Stamphatterijen) dengan berat setiap palunya 1.250 lbs. Peralatan konsentrasi lain yang tersedia juga berupa : Mesin Penggiling Peluru untuk penggilingan kasar (Ball Mills), Mesin Penggiling Halus (Pebble Mills), Panci Penggiling Terbuka (Grinding Pan) yang sangat mirip dengan alat penggiling tepung terigu (Kisaran), Saringan Tromol Putar / Saringan Pukul (Klop-Zeven), Saringan Goyang (Sehud-Zeven), Mesin Jig, Meja Goyang, Meja Lumpur Khusus (Slime Table), peralatan-peralatan pendulangan (Panning), peralatan magnetik induksi, dan peralatan Flotasi (peralatan campur lumpur mineral dan minyak dengan reagen lain melalui tiupan udara untuk menimbulkan sulfida-sulfida pengotor ke permukaan).

TAMBANG BAWAH TANAH Gunung Tikus (disebut juga : Mentikus) merupakan panambangan bijih timah primer yang dianggap agak modern pertama kali dalam sejarah pertimahan Belitung. Pada jalan akses utama (gerbang utama) memasuki kawasan tambang Tikus pada saat itu terdapat sepasang patung singa bergaya Asia Timur yang diangkut dari Pulau Brani (Singapura). Artinya dapat kita bayangkan pada masa itu bahwa daerah ini merupakan sebuah komplek pertambangan yang ramai dengan areal pemukiman seluas kurang lebih 20 hektar serta memiliki jalur rel kereta (loko/lori) yang memanjang menuju pusat dermaga Sungai Sijuk.

Penambangan Bawah Tanah (Underground Mining) di Gunung Tikus ini juga sudah menggunakan bahan peledak galignit atau gelatih peledak dengan cara dimasukkan kedalam lubang ledak yang dibuat dengan bor tangan hydraulik/Jegleg (tenaga angin + air), pompa sentrifugal listrik dan pompa plunyer-uap yang digunakan untuk mengeluarkan air buangan dari penggalian urat bijih secara “Airlifts” (tekanan air + angin), penerangan sepanjang cemuk/level terowongan menggunakan lampu-lampu listrik dan menggunakan lampu-lampu karbit pada front kerja (Stopping), bahan-bahan pembuat pompa-pompa tambang terbuat dari bahan perunggu untuk mengurangi tingkat kerusakan/korosi yang tinggi karena air asam tambang yang tinggi akibat oksidasi sulfida dan bahan campuran pyrite.

Salah satu ciri khas Tambang Dalam yang ada di Belitung seperti halnya juga di Gunung Tikus adalah adanya menara-menara cemuk yang dibangun di atas bukaan sumuran (Shaft) yang diatasnya ditempatkan Roda Putar Besar sebagai tempat untuk dilewati Sling Kawat Baja untuk menaik-turunkan gerbong-gerbong pekerja dan lori (cage-skip-lori) menuju setiap level terowongan. Bahan bangunan yang digunakan di komplek Teambang Tikus berkualitas baik dan konstruksi besi yang digunakan adalah besi baja kualitas terbaik dari Jerman. Sistem penampungan airnya disiapkan kolam beton yang besar, dan untuk transportasinya sudah menggunakan lori-lori dengan lokomobil diatas rel, sudah menggunakan saluran komunikasi telepon antara pekerja di permukaan dan dengan pekerja di dalam terowongan.

Pada Tahun Produksi 1919/1920, tercatat telah tergali dan diangkat ke permukaan sebanyak 35.512 Ton Bijih Timah. Kemudian pada Tahun Produksi 1920/1921 sampai dengan bulan Desember 1920 dicapai produksi sebanyak 15.200 Ton Bijih Timah.

Dan pada malam hari (shift malam) tanggal 14 Desember tahun 1920 inilah terjadinya musibah longsor di Tambang Tikus. Musibah longsor ini terjadi karena tidak jauh dari Shaft Utama di sebelah Timur-Laut, terdapat bekas kolong tambang terbuka yang telah dihentikan kegiatannya tahun 1909, yang digunakan sebagai lokasi / kolong penampungan lumpur tailing dari tambang terbuka lainnya dengan kedudukan topografinya lebih tinggi.

Dalam tanah yang terletak dibawah penampungan tailing yang juga penuh terisi air, terdapat lorong-lorong Tambang Dalam yang dipisahkan oleh batuan granit setebal 21 meter. Batuan granit yang semula diperkirakan kuat dan massif tersebut ternyata tidak kuat menahan beban lumpur tailing dan air di atasnya. Akibatnya batuan patah dan air beserta lumpur tailing tersebut mengalir deras masuk ke dalam lorong kerja yang terbuka dibawahnya.
Di permukaan tanah yakni di tempat penimbunan tailing terjadi lubang besar menganga dengan diameter lubang sepanjang 8 meter, dan melalui lubang bukaan menganga tersebut tercurah ribuan meter kubik material lumpur dan air kedalam ruang-ruang kerja Tambang Bawah Tanah. Hanya dalam waktu 10 menit, permukaan tailing dalam kolam tampungan turun sedalam 5 meter. Para saksi mata mengatakan terjadi dua kali penurunan permukaan tanah di penampungan tailing.

Pada saat kejadian musibah longsor tersebut, terdapat 38 orang pekerja yang sedang bekerja Shift Malam. Dari 38 orang pekerja itu hanya 5 orang pekerja yang selamat karena sedang bekerja di Shaft Utama dan di Instalasi Pencucian. Sedangkan 33 orang pekerja saat kejadian berada di ujung terowongan Level II pada kedalaman 80 meter dan terperangkap oleh material longsoran. Hubungan telepon masih dapat dilakukan dengan para pekerja yang terperangkap, dan mereka menyatakan bahwa semua pekerja dalam keadaan hidup dan meminta pertolongan. Pada saat itu juga pihak perusahaan (GMB) segera membentuk Tim Penyelamat. Selama satu minggu dilakukan tanpa henti penggalian material longsoran di terowongan Level II. Pada saat proses evakuasi dilakukan, aliran lumpur material terus mengalir sangat deras sehingga setiap kali dilakukan penggalian selalu menghasilkan reruntuhan baru. Sementara itu para pekerja yang terperangkap masih dapat melakukan komunikasi telepon dengan Tim Penyelamat. Para pekerja masih dapat bertahan hidup dengan minum air tanah. Tim Penyelamat sudah berusaha sekuat tenaga untuk melakukan evakuasi, akan tetapi mereka juga sudah pesimis dengan usaha yang mereka lakukan karena usaha evakuasi yang mereka lakukan tidak sebanding dengan derasnya arus longsoran lumpur material yang turun.
Akhirnya setelah berjuang mati-matian selama satu minggu, dengan berat hati pimpinan perusahaan memutuskan sambungan telepon antara Tim Evakuasi dengan para korban. Walaupun sambungan telepon sudah diputus, upaya evakuasi masih terus dilakukan. Upaya evakuasi ini dilakukan sampai dengan tanggal 30 Maret 1921, yaitu 107 hari setelah kejadian kecelakaan tambang tersebut. Dengan kejadian longsoran dan kecelakaan tambang tersebut, maka secara resmi Tambang Bawah Tanah Gunung Tikus ditutup dan dihentikan operasinya untuk selamanya.

Untuk mengenang ke 33 orang pekerja tambang tersebut (pekerja Tionghoa) walaupun tanpa jasad mereka, maka dibuatkanlah sebanyak 33 buah kuburan dengan nisan nama-nama korban, sehingga sanak keluarga dan keturunannya bisa mengenang dan mengunjungi makam mereka. Kompleks makam tersebut berada dipinggir Jalan Raya Sijuk KM 22 Desa Air Selumar Kecamatan Sijuk Kabupaten Belitung. *) by Ed Niz

Categories: Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *